beritadunesia-logo

Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero

Ekspansi tambang baru terus dilakukan Belanda pada tahun 1892. Lubang tambang baru dibuka di lorong bawah tanah pusat kota Sawahlunto. Lokasi tambang dinamakan Lubang Tambang Soegar. Gara-gara Mbah Soero menjadi mandor, lubang yang melintasi bawah tanah pusat Kota Sawahlunto itu juga dinamakan Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero.
Sayangnya, kondisi lubang tambang ini tidak terlampau baik. Kedekatan lubang tambang dengan Sungai Lunto menjadikan rembesan air mengalir begitu deras ke dalam lubang. Sebelum tahun 1930, Belanda menutup lubang ini.
Ketika Pemerintah Kota Sawahlunto hendak membuka kembali lubang tambang ini untuk kepentingan pariwisata, mereka mendapati lubang penuh dengan air. ”Butuh waktu 22 hari untuk menyedot air keluar dari tambang,” tutur Willizon (51), juru kunci lubang tambang Mbah Soero.

Tetapi, tunggu dulu. Ada satu versi lagi yang berkembang di masyarakat seputar penutupan Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero. Sebagian masyarakat meyakini penutupan lubang itu terkait dengan keinginan Belanda untuk menyimpan deposit batu bara untuk kelak kemudian hari.

Kepala Bidang Pertambangan dan Energi Kota Sawahlunto Medi Iswandi memperkirakan deposit batu bara di Lubang Mbah Soero itu masih tersisa sekitar 40 juta ton. ”Kita bisa melihat batu bara berwarna hitam di sisi-sisi terowongan. Batu bara ini yang ditambang saat proses penambangan masih berlangsung,” kata Medi.

Lubang tambang yang kembali dibuka Pemkot Sawahlunto pada pertengahan tahun 2008 itu memang masih menyimpan banyak kandungan batu bara. Sebagian dinding serta atap lubang tambang dipenuhi dengan batu bara. ”Batu bara yang ada mempunyai kualitas baik, yakni 6.000-7.000 kalori,” ujar Willizon lagi.
Kilatan cahaya pantulan dari senter kepala para pengunjung menjadikan batu bara ini tampak gemerlapan. Sebagian tembok menampilkan susunan batu bata yang merupakan peninggalan zaman Belanda.

Walaupun dipenuhi batu bara, Medi menjamin gas berbahaya, seperti metan, monooksida, atau belerang, tidak ditemukan di terowongan itu sehingga aman bagi pengunjung. Pemantauan gas-gas berbahaya dilakukan pemkot hampir setiap hari. Sebuah pipa besar berisi oksigen dimasukkan ke dalam terowongan agar pengunjung tidak sesak napas ketika melintas di terowongan.

Sumber: potensidaerah.ugm.ac.id